Sabtu, 02 April 2011

Bagaimana menangani diare pada anak di rumah?



Diare adalah buang air besar dengan frekuensi ≥3 kali dalam 24 jam dan konsistensi tinja cair. Buang air besar yang sering  dengan konsistensi tinja normal (seperti pasta), atau berwarna kehijauan pada bayi usia 3-4 hari dan mendapatkan asupan ASI, tidak dianggap sebagai diare.
Diare merupakan penyakit tersering menyerang anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Data statistik menunjukkan bahwa diare merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42% dibanding pneumonia 24% dan untuk usia 1-4 tahun, penyebab kematian karena diare 25.2% dibanding pneumonia 15.5%.
Kematian anak akibat diare umumnya disebabkan dehidrasi (kehilangan cairan) yang terjadi pada 10% kasus. Keadaan dehidrasi terjadi akibat kehilangan cairan dan elektrolit tubuh secara berlebihan. Bayi dan anak kecil lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding anak yang lebih besar.
Penyebab diare terdiri dari penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung adalah infeksi (bakteri, virus, parasit), malabsorbsi, keracunan, dan alergi. Penyebab langsung diare yang sering ditemukan adalah virus. Penyebab tidak langsung adalah malnutrisi, higiene dan sanitasi yang kurang.
Status dehidrasi pada seorang anak yang mengalami diare, dibagi terdiri dari tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan-sedang, dan dehidrasi berat. Penanganan diare pada anak disesuaikan dengan derajat dehidrasi yang terjadi. Penanganan diare pada anak bertujuan untuk mengoreksi kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat dan kemudian mengganti cairan yang hilang sampai diare berhenti. Kehilangan cairan dapat diganti secara oral maupun intravena. Cairan rehidrasi oral (CRO) yang biasa digunakan adalah oralit yang mengandung elektrolit dan glukosa. Oralit terbukti dapat mengganti kehilangan cairan saluran cerna secara efektif.
Pada diare tanpa dehidrasi, anak masih terlihat aktif dan buang air kecil masih berlangsung normal. Pada keadaan ini tidak perlu membatasi pemberian makanan dan minuman termasuk susu formula dan pemberian ASI diteruskan. Untuk mencegah dehidrasi dapat diberikan CRO sebanyak 5-10 cc/kg BB setiap buang air besar dengan tinja cair. Pada bayi, CRO dapat diberikan dengan cara berselang-seling dengan cairan yang tidak mengandung kadar Na seperti air putih atau ASI. Pemberian CRO dengan cara sedikit demi sedikit dan terus menerus, supaya anak dapat toleransi terhadap rasa CRO yang kurang enak. Rehidrasi dengan menggunakan air putih, sari buah, dan cairan rumah tangga lainnya akan memberikan hasil yang tidak optimal karena kandungan natriumnya kurang. Sebaliknya, pemberian jus buah dapat memperbesar keadaan diare, karena mengandung osmolaritas tinggi di samping kadar Na yang rendah.
Pada diare dehidrasi ringan-sedang didapatkan gejala berupa anak terlihat gelisah, rewel, sangat haus, dan buang air kecil mulai berkurang. Mata agak cekung, tidak ada air mata, turgor (kekenyalan) kulit menurun, dan mulut kering. Rehidrasi dilakukan dengan memberikan CRO sebanyak 75ml/kg BB dalam waktu 3-4 jam. Bila keadaan dehidrasi telah teratasi, dapat segera diberikan makan dan minum. Pemberian ASI diteruskan, disertai pemberian CRO sebanyak 5-10 ml/kg BB setiap buang air besar cair. Minuman, seperti cola, gingerale, apple juice, dan minuman olah raga umumnya mengandung kadar Na yang rendah sehingga tidak dapat mengganti kehilangan elektrolit yang telah terjadi.
Penanganan diare tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan sedang dapat dilakukan di rumah dengan cara seperti yang telah diuraikan diatas. Anak diberikan minum lebih banyak dari biasanya, dan makan lebih sering. Bila keadaan tidak membaik, pasien segera dibawa ke petugas kesehatan.
Pemberian makanan tidak perlu dibatasi, karena meneruskan pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan. Bila diare disertai muntah, CRO dapat diberikan secara bertahap; 1 atau 2 sendok teh setiap 1 atau 2 menit dengan peningkatan jumlah sesuai dengan kemajuan toleransi anak. Tindakan ini perlu di bawah pengawasan, sehingga dapat dilaksanakan pada suatu ruang observasi yang dikenal dengan ruang Upaya Rehidrasi Oral atau Ruang Rawat Sehari.
Anak dapat dipulangkan bila keadaan dehidrasi sudah teratasi dan mendapat terapi rumatannya di rumah, atau tetap diobservasi untuk mendapat terapi lebih lanjut bila dehidrasi masih berlangsung. Sebelum anak dipulangkan orangtua  harus paham betul untuk menyiapkan dan memberikan CRO dengan benar. Anak dengan diare tidak boleh hanya diberikan CRO saja selama lebih dari 24 jam, sehingga pemberian makanan harus segera dilakukan. Makanan sehari-hari dapat dicapai secara bertahap dalam 24 jam. Memuasakan anak yang menderita diare hanya akan memperpanjang durasi diarenya.
Pada diare dengan dehidrasi berat, selain gejala klinis pada dehidrasi ringan-sedang, juga terlihat kesadaran anak menurun, lemas, malas minum, mata sangat cekung, mulut sangat kering, pola napas yang sangat cepat dan dalam, denyut nadi cepat, dan kekenyalan kulit sangat menurun. Pada keadaan ini, anak harus segera dirawat untuk mendapat terapi rehidrasi parenteral (melalui infus).
Pemberian susu formula khusus pada bayi diare hanya pada kasus yang terindikasi. Pemberian susu yang mengandung rendah atau bebas laktosa hanya diberikan kepada anak yang secara klinis jelas memperlihatkan gejala intoleransi laktosa (tidak dapat mencerna laktosa yang terdapat di dalam susu). Pemberian antibiotik pada diare hanya diberikan untuk kasus tertentu saja, karena penyebab diare paling sering pada bayi dan anak adalah virus. Pemberian obat antidiare pada anak belum direkomendasikan.
Pemberian zink pada diare direkomendasikan, karena dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Penggunaan suplementasi zink bersama CRO akan menurunkan durasi dan keparahan episode diare, angka perawatan rumah sakit, dan pemakaian antibiotik yang tidak perlu.
Pencegahan terjadinya diare pada anak dapat dilakukan oleh tiap individu. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain upayakan ASI tetap diberikan, menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan, cuci tangan sebelum makan, buang air besar di jamban, imunisasi campak, memberikan makanan penyapihan yang benar, penyediaan air minum yang bersih, dan selalu memasak makanan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar